Waspadai Air untuk Balita Anda, Bisa Ancam Kesehatan

Air merupakan sumber kehidupan. Sekitar 80 persen tubuh manusia terdiri dari air. Setidaknya, setiap harinya dibutuhkan delapan gelas air putih yang harus masuk ke dalam tubuh. Masalah yang terjadi adalah, banyak air yang kini tak layak konsumsi, sehingga justru menyebabkan banyak penyakit yang masuk ke dalam tubuh.
“Masalah yang paling sering terjadi adalah pencemaran bakteri pada air yang menyebabkan penyakit diare,” kata pakar kesehatan lingkungan FKM UI, dr R Budi Haryanto.
Penyakit ini paling mudah menyerang bayi, balita, dan pada orang-orang yang kondisi daya tahan tubuhnya sedang lemah. Bayi merupakan makhluk yang paling rentan terhadap penyakit. Karena itu, ibu harus berhati-hati dalam memberikan air kepada bayi. Tak hanya memerhatikan air yang diminum, namun juga peralatan makan dan minumnya.
“Percuma saja jika air yang diberikan sehat namun tempatnya tidak,’’ kata Budi.  Mengapa? Ia menjelaskan,  tempat makan dan minum bayi dicuci dengan air keran yang terkontaminasi bakteri, anak juga bisa terserang diare.
Walaupun diare merupakan penyakit yang sering dan sudah sangat umum dijumpai, namun penyakit ini tak boleh disepelekan. Diare jika tak tertangani dengan baik akan menimbulkan kematian karena dehidrasi. Apalagi, jika diare menyerang pada bayi.
 Diare yang menyerang bayi akan sangat membahayakan. Sebab,  bayi akan lebih sulit untuk diberi cairan. Dibanding orang dewasa yang masih bisa disuplai dengan minuman, bayi yang sudah tak mau minum harus diinfus. Jika terlambat mengalami diare, tentu saja ancaman maut bagi si buah hati membayang-bayangi. 
Untuk itu, dokter Budi menyarankanl angkah hati-hati. Ia juga mengiimbau agar alat-alat makan pada bayi juga disterilkan. Caranya,  alat-alat makan tersebut harus direbus. Sedangkan untuk air yang dikonsumsi bayi, air harus dipastikan steril dari bakteri dengan merebusnya hingga benar-benar mendidih.  “Sebelumnya, air dipastikan dulu air yang bagus, yaitu air yang jernih, tak berbau, tak berasa, tak berwarna, dan tak mengendap. Setelah itu, pastikan air benar-benar telah dipanaskan hingga benar-benar mendidih,” kata Budi.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: